Juli 26, 2014

Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh

Petunjuk Kedamaian Pikiran untuk Si Bodoh

Saya menceritakan kisah sebelumnya kepada sekelompok besar pendengar, pada suatu Jumat petang di Perth. Pada hari Minggu-nya, seorang ayah datang dengan marah-marah untuk berbicara kepada saya. Dia mengikuti ceramah tesebut dengan anak remajanya. Masalahnya, ketika hari Sabtu siang si anak ingin pergi bersama teman-temanya, si ayah bertanya kepada anaknya, “Kamu sudah bikin PR belum?” Anaknya menjawab,”Seperti yang diajarkan Ajahn Brahm semalam di wihara, Papa, Daa…daaaa…..!”
Pada hari minggu berikutnya saya menceritakan kisah yang lain.
Kebanyakan orang di Australia memiliki taman di rumahnya, tetapi hanya segelintir orang yang tahu bagaimana menemukan kedamaian di taman mereka. Bagiorang lainnya, taman hanyalah tempat bekerja yang lain, Jadi saya menganjurkan mereka yang punya taman untuk memelihara keindahan taman dengan berkebun sejenak, dan memelihara hati mereka dengan sejenak duduk dalam damai di tamannya, menikmatai berkah alam.
Orang Bodoh pertama akan berpikir, ini gagasan bagus yang mengasyikkan. Jadi pertama-tama mereka memutuskan untuk membereskan segala pekerjaan remeh-temeh, sesudah itu mereka baru melarutkan diri dalam kedamaian di taman. Jadi hamparan rumput harus dipotong, bunga perlu disirami, dedaunan perlu dipangkas, semak-semak harus dibabat, jalan setapak harus disapu…. Tentu saja itu semua menghabiskan seluruh waktu luang mereka, dan pekerjaan yang beres pun baru sebagian kecil. Pekerjaan mereka jadinya tak pernah selesai, dan mereka tak akan pernah memiliki sejenak waktu untuk diam dalam damai. Pernahkah Anda perhatikan bahwa di dalam budaya kita, orang-orang yang “istirahat dalam damai” hanya dapat ditemukan di pekuburan?
Orang bodoh kedua berpikir bahwa mereka lebih pintar dari orang bodoh pertama. Mereka menyingkirkan semua garu dan penyiram, lantas duduk di taman sambil membaca majalah, bisa jadi, yang berisi gambar pemandangan alam nan aduhai. Tetapi, itu berarti menikmati majalah, bukannya menemukan kedamaian di taman,
Orang Bodoh ketiga menyingkirakan semua peralatan berkebun, semua majalah, koran dan radio, dan duduk diam dalam damai di tamannya… selama kira-kira 2 detik! Lalu mereka mulai berpikir, “Rumput itu perlu dipotong dan semak-semak disana harus dibabat segera. Jika saya tidak menyiram bunga-bunga itu, mereka akan layu. Dan tanaman kaca-piring yang indah akan tampak bagus di sudut sana. Ya! Dengan sedikit hiasan tempat mandi burung di depan situ. Saya bisa membelinya di tempat pembibitan….” Itu sih namanya menikmati berpikir dan berencana. Tak ada kedamaian pikiran di situ.
Pekebun yang bijak akan mempertimbangkan, “Saya telah bekerja cukup lama, sekarang waktunya untuk menikmati buah dari pekerjaan saya untuk mendengarkan kedamaian. Jadi biarpun rumput perlu dipotong dan dedaunan harus dipangkas dan bla, bla, bla! TIDAK SEKARANG.” Dengan cara inilah, kita temukan kebijaksanaan untuk menikmati taman, sekalipun tidak sempurna.
Siapa tahu ada seorang biksu tua Jepang  bersembunyi di balik salah satu semak dan siap untuk melompat keluar dan membeitahu kita betapa sempurnanya taman tua kita yangberantakan. Sungguh, jika kita memusatkan perhatian kepada pekerjaan yang telah kita selesaikan, mungkin kita akan mengerti bahwa yang sudah selesai, ya sudah selesai. Namun jika kita memusatkan perhatian hanya untuk melihat kesalahan pada sesuatu yang harus diperbaiki, seperti dalam kasus di wihara saya, kita tidak akan pernah tahu apa itu kedamaian.
Pekebun yang bijak akan menikmati lima belas menit kedamaian di tengah kesempurnaan dari tidak sempurnanya alam, tidak berpikir, tidak berencana, dan tidak merasa bersalah. Kita semua berhak untuk pergi dan mendapatkan kedamaian; tetapi orang lain pantas kehilangan kedamaian dengan cara mereka sendiri! Lalu setelah memperoleh bagian penting dan vital dari lima belas menit dalam damai, kita bisa meneruskan tugas berkebun kita.
Saat memahami bagaimana menemukan kedamaian di taman, kita akan tahu bagaimana menemukannya kapan saja, di mana saja. Khususnya kita akan tahu bagaimana menemukan kedamaian di dalam taman hati kita, sekalipun pada saat kita berpikir bahwa ada begitu banyak ketidakberesan, begitu banyak yang harus diselesaikan.

Anak-Anak Kelas B

Anak-Anak Kelas B.
Begini ceritanya…
Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian di bidang pendidikan diadakan secara rahasia di sebuah sekolah di Inggris. Sekolah itu memiliki dua kelas untuk setiap kelompok anak-anak dengan usia sepantar. Pada akhir tahun ajaran diadakanlah sebuah ujian dalam rangka memilih anak-anak untuk pembagian kelas berikutnya.
Akan tetapi hasil ujian itu tidak pernah diumumkan. Dalam kerahasiaan hanya kepala sekolah dan para pakar psikologi saja yang mengetahuinya. Anak-anak yang mendapat peringkat satu ditempatkan di kelas yang sama dengan anak-anak yang mendapat peringkat empat dan lima, delapan dan sembilan, dua belas dan tiga belas dan selanjutnya. Sementara anak yang mendapat peringkat dua, tiga ditempatkan di kelas yang sama dengan peringkat enam dan tujuh, sepuluh dan sebelas dan seterusnya. Dengan kata lain berdasarkan kinerja selama ujian anak-anak dibagi rata menjadi dua kelas. Para guru pun diseleksi berdasarkan kesetaraan kemampuan. Bahkan setiap ruang kelas diberi fasilitas yang sama. Segala sesuatu dibuat sama hanya dibedakan berdasarkan kelasnya, kelas A dan kelas B.
Pada kenyataannya setiap kelas memiliki kemampuan yang setara. Tetapi di benak setiap orang anak-anak dari kelas A dianggap sebagai anak yang cerdas dan anak dari kelas B dianggap tidak begitu pandai. Beberapa orang tua dari kelas A mendapat kejutan menyenangkan dan menghadiahi anak mereka dengan hadiah dan pujian. Sementara orang tua dari kelas B mengomeli anak mereka karena dianggap telah gagal dalam ujian. Bahkan para guru pun mengajar dengan sikap yang berbeda. Sepanjang tahuan ajaran ilusi itu terus dipertahankan. Lalu tibalah ujian akhir tahun berikutnya.
Hasilnya membuat merinding tapi tidak mengagetkan. Anak-anak kelas A mendapat prestasi yang lebih baik dari anak kelas B. Pada kenyataanya hasilnya juga akan seperti itu jika dulunya mereka terpilih sebagai anak kelas A.
Seperti apa mereka diajar sepanjang tahun, seperti apa mereka diperlakukan, seperti apa mereka dipercaya demikianlah jadinya mereka.

Rasa Bersalah Para Penjahat

Rasa Bersalah Para Penjahat

Sebelum saya tertimpa tugas terhormat yang membebani sebagai kepala vihara, dulunya saya sering mengunjungi penjara-penjara di Perth. Saya menyimpan baik-baik catatan mengenai tugas pelayaran di penjara ini karena bisa saya pakai sebagai kredit prestasi seandainya saya sendiri sampai di penjara.

Pada kunjungan perdana saya ke sebuah penjara besar di Perth, saya terkejut dan terkesan akan banyaknya narapidana yang menghadiri ceramah mengenai meditasi yang saya bawakan. Ruangan pertemuan penuh sesak. Sekitar sembilan puluh lima persen dari populasi penjara hadir untuk belajar meditasi. Makin lama saya berbicara, rupanya semakin gelisahlah para pendengar saya. Baru sepuluh menit berlalu, seorang narapidana, salah satu penjahat paling kondang di penjara, mengangkat tangannya untuk bertanya. Saya mempersilahkannya.

“Apa betul,” tanyanya, “Dengan meditasi kita bisa terbang?”

Sekarang saya tahu mengapa ada begitu banyak narapidana yang datang ke ceramah saya. Rupanya mereka semua berencana belajar bermeditasi supaya bisa terbang melewati tembok penjara!

Saya bilang kepada mereka bahwa hal itu tidaklah mustahil, namun itu hanya untuk meditator yang berbakat istimewa saja, dan itu pun setelah bertahun-tahun latihan. Pada kesempatan berikutnya saya datang untuk mengajar di penjara itu lagi, hanya ada empat orang narapidana yang masih setia mengikuti ceramah saya.

Setelah beberapa tahun mengajar di penjara, saya jadi mengenal beberapa penjahat dengan akrab. Salah satu hal yang saya temukan adalah bahwa setiap penjahat merasa bersalah terhadap apa yang telah mereka lakukan. Mereka merasakannya siang dan malam, dalam lubuk hati yang terdalam. Mereka hanya memberitahukan hal ini kepada teman dekat saja. Di depan publik, mereka menampilkan wajah sangar khas penjahat. Tetapi bila mereka bisa mempercayai Anda, ketika mereka menganggap Anda sebagai pembimbing spiritual mereka, meskipun untuk sejenak saja, mereka akan membuka diri dan mengungkapkan rasa bersalah yang memedihkan. 

Juli 25, 2014

Pengertian Dhamma

Dharma

Hukum Kebenaran, Agama, hal, hal-hal apa saja yang berhubungan dengan ajaran agama Buddha sebagai agama yang sempurna.
Dharma mengandung 4 (empat) makna utama :
1. Doktrin
2. Hak, keadilan, kebenaran
3. Kondisi
4. Barang yang kelihatan atau phenomena.
Buddha Dharma adalah suatu ajaran yang menguraikan hakekat kehidupan berdasarkan Pandangan Terang yang dapat membebaskan manusia dari kesesatan atau kegelapan batin dan penderitaan disebabkan ketidakpuasan. Buddha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian, filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila, etika, dan sebagainya. 
Tripitaka Mahayana termasuk dalam Buddha Dharma.

Apa Itu Dhamma/Dharma ?

Apa itu Dhamma? Atau Dharma?

Ajaran Sang Buddha disebut Dhamma ( atau Dharma).

Banyak sekali arti yg terkandung di dlm kata ini, tetapi di dlm pengertian yg paling mendasar,
kata ini berarti prinsip
KEBENARAN TERTINGGI dan REALITAS,

Sebagaimana telah diketemukan Sang Buddha pada malam pencerahan spiritual Beliau.

Setelah sepenuhnya menembus Dhamma sampai ke segala unsurnya, tugas yg ditentukan oleh Sang Buddha utk diri Beliau sendiri adalah utk membabarkan Dhamma, menjelaskannya dan mengungkapkannya pada dunia.

Karena Ajaran Sang Buddha mengungkapkan sifat sejati dari segala hal, hukum2 kehidupan yg fundamental,
maka AJARAN itu juga disebut DHAMMA.

Di dalam teks, seringkali Sang Buddha mengacu pada Ajarannya sebagai Dhamma dan Disiplin (dhamma-vinaya).

Jika ungkapan ganda ini digunakan,

"Dhamma" berarti aspek doktrin, perumusan konsep mengenai kebenaran tentang keberadaan,

Sementara "Disiplin" menyatakan hubungannya yang praktis – tdk hanya aturan monastik (arti lain vinaya) melainkan seluruh sistem latihan yg menuju tercapainya tujuan akhir.

Sang Buddha mengajarkan Dhamma & Vinaya secara bebas dan terbuka, krn seperti matahari & bulan, kebenaran bersinar bila diungkapkan, bukan bila ditutupi.

Tdk pernah Beliau berusaha memaksakan kewenangan kpd org lain, tetapi dgn lembut Beliau menunjukkan prinsip2 yg telah Beliau lihat dgn cara yg paling cocok utk pendengarnya;

Kemudian Beliau membiarkan Dhamma utk meyakinkan lewat dorongan kekuatan Dhamma itu sendiri.

Dhamma dpt melakukan demikian karena :

"Dhamma indah di awal, indah di tengah, indah di akhir ".

Di awalnya,
Dhamma memberikan garis pembimbing tanpa cela utk perilaku yg benar dan kehidupan yg bajik;

Di tengah,
Dhamma menunjukkan jalan
menuju ketenangan mental & pandangan terang; dan

Di akhir,
Dhamma memuncak pada kebijaksanaan dan kedamaian tertinggi.


Be GW ~ Be Good Be Wise

Šαbbє Šαttα ßhαvαntu Šukhitαttα.
‎​​​Šαdhu....3x 

Pengertian DANA dan Jenis Berdana

Pengertian Berdana

Berdana merupakan suatu sifat kemuliaan yang sangat ditekankan dalam berbagai aliran Buddhisme. Berdana yang dilakukan dengan keyakinan, penuh hormat, secara tepat waktu, ikhlas dan tanpa merugikan diri sendiri ataupun pihak lain akan menghasilkan buah karma yang baik berupa kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah, sebagaimana sabda Sang Buddha padaAnguttara Nikaya Vol. III, 48)
“Oh, para bhikhu, kelima hal ini adalah dana dari seorang yang baik. Apakah kelima hal itu ? Ia berdana dengan keyakinan ; ia berdana dengan hormat; ia berdana tepat pada waktunya; dengan hati ikhlas; dan ia berdana tanpa merugikan dirinya sendiri ataupun pihak lain.”
“Dengan memberikan dana dengan keyakinan dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, maka akan datanglah kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; serta ia akan elok dipandang, tampan/cantik, bagaikan keindahan bunga teratai yang mengagumkan.”
“Dengan berdana secara hormat dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, maka ia akan memperoleh kemakmuran , kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; dan anak-istrinya, para pesuruh dan pegawainya akan mendengarkan kata-katanya dengan sabar dan patuh, serta akan melayaninya dengan hati yang penuh pengertian.”
“Dengan berdana secara tepat waktu dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, maka ia akan memperoleh kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; dan kebaikan akan datang kepadanya tepat pada waktunya dan berlimpah ruah.”
“Dengan berdana secara ikhlas dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, ia akan memperoleh kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang melimpah; dan pikirannya akan menikmati sepenuhnya kebahagiaan dari kelima panca inderanya.”
“Dengan berdana tanpa merugikan diri sendiri maupun pihak lain dimanapun juga, dan jika buah dari dana tersebut masak, ia akan memperoleh kemakmuran, kekayaan, dan harta benda yang berlimpah; dan tidak akan ada dari manapun juga sesuatu yang akan merugikan harta bendanya ; baik api atau air, pemerintah atau pencuri, atau ahli waris yang berwatak buruk.”
Berdana tidak hanya ditinjau dari sudut materi saja tetapi juga bisa dari pembicaraan yang ramah, senyuman yang tulus, budi pekerti yang menyenangkan, danmemberikan pengertian yang benar mengenai ajaran Sang Buddha.
“Memberi makanan, seseorang memberikan kekuatan; memberi pakaian, seseorang memberikan keindahan; memberi penerangan, seseorang memberikan penglihatan; memberi angkutan, seseorang memberikan kesenangan; memberi perlindungan, seseorang memberikan semuanya; tetapi seseorang yang mengajarkan Dharma, ajaran Sang Buddha yang istimewa, orang seperti itu memberikan makanan surgawi.” (Samyutta Nikaya, I, 32)
“Kedermawanan, perkataan yang ramah, melakukan hal yang baik untuk orang-orang lain, dan memperlakukan semua orang secara sama; bagi dunia, tali-talisimpati ini bagaikan penyambung roda kereta.” (Anguttara Nikaya, Vol. 32)
Tentunya dalam berdana secara materi kepada yang membutuhkan , haruslah sumber dana tersebut diperoleh dari usaha sendiri yang dihimpun secara benar.
“Dengan kekayaan yang dihimpun secara benar, yang diperoleh melalui usaha sendiri, ia membagikan makanan dan minuman kepada makhluk-makhluk yang membutuhkan.” (Itivuttaka, 66)
Untuk dapat menghimpun dana secara benar, maka kita haruslah giat dalam bekerja dan senantiasa mengumpulkan bekal secara benar sewaktu masih muda, sebagaimana sabda Sang Buddha:
“Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda , akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya. Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, akan terbaring seperti busur panah yang rusak, menyesali masa lampaunya.”(Dhammapada, 155, 156).
Dengan senantiasa berdana yang terbaik dalam segala hal maka akan terbina sifat kemuliaan yang tak terkira.
“Yang memberikan hal-hal yang baik akan memperoleh yang baik;
Yang memberikan hal-hal yang terbaik akan memperoleh yang terbaik;
Yang memberikan hal-hal yang terpilih akan menerima yang terpilih;
Yang memberikan hal-hal yang utama maka keutamaan akan dimenangkannya;
Ia yang memberikan yang terbaik, yang terpilih, yang utama
maka orang itu akan mempunyai kemuliaan dan umur panjang dimanapun juga ia berada.” (Anguttara Nikaya, vol . III, 44)
Dalam melakukan puja bhakti di setiap vihara , biasanya diberikan kesempatan juga kepada para umatnya untuk melakukan Dharma Dana, yang biasanya diiringi dengan nyanyian berikut :
“DANA PARAMITA”
Marilah kita berdana, Untuk kepentingan Dhamma
Semoga kita diberkahi, Oleh Buddha Maha Suci
Berdanalah kita semua, Dengan hati ikhlas rela
Semoga karma baik kita, Dirahmati Sang Tri -Ratna
(dan dalam kebaktian Mahayana, ditambahkan lagi sebagai berikut )
Marilah kita berdana, Menimbun Kusala kamma
Semoga kita diberkahi, Bodhisattva Makhluk Suci
Sang Avalokitesvara, Selalu memberkahi kita
Semoga hidup kita bahagia, Untuk selama-lamanya.

Sekilas Mengenai Berbagai Jenis Dana

Berikut ini dikutipkan jawaban-jawaban dari alm. Bhikkhu Ledi Sayadaw atas pertanyaan mengenai Dana sewaktu Beliau masih tinggal di daerah Chipagan, Burma yang didasarkan atas Tipitaka Pali, Atthakathadan Tika.
1. Thavara Dana; Pemberian yang bersifat tahan lama, misalnya stupa, rumah peristirahatan, vihara, sekolah, jembatan, sumur, menara air, tanah, dsb.
2. Athavara Dana; Pemberian yang sifatnya tidak tahan lama, misalnya makanan, pakaian, dan uang. Athavara Dana yang diberikan terus menerus akan menghasilkan buah yang sama kuat dengan Thavara Dana.
3. Amisa Dana; Berdana dalam bentuk materi termasuk uang untuk membangun vihara.
4. Dhamma Dana; Berdana pengetahuan Buddhadharma, misalnya berdana buku-buku Buddhadharma, mencetak, menulis, menterjemahkan, menyunting, mengajar, memberi khotbah Dharma. Sang Buddha bersabda, “Danam Dhamma Danam Jinati” , yang artinya, “Dari semua pemberian, pemberian Dharma-lah yang tertinggi.” Dharma Dana menghasilkan kebijaksanaan dan pengetahuan.
5. Nicca Dana; Pemberian yang dilakukan secara teratur dan tetap. Seseorang tidak akan dilahirkan di alam Apaya (menderita) apabila dia melakukan Nicca Dana.
6. Anicca Dana; Pemberian yang dilakukan kadang-kadang saja
7. Vatta Nissita Dana; Pemberian yang dilakukan untuk mengharapkan keuntungan-keuntungan yang bersifat duniawi. Keuntungan duniawi meliputi keinginan untuk dilahirkan di alam-alam dewa, dilahirkan sebagai anak orang kaya. Pemberian dana semacam ini cenderung akan memperpanjang Samsara (lingkaran kehidupan dan kematian).
8. Vivatta Nissita Dana; Pemberian dengan tujuan untuk membebaskan diri dari kesengsaraan [samsara] dengan tercapainya Kebebasan [Nibbana].
9. Puja Dana; Pemberian kepada orang-orang yang menjalankan sila dan orang-orang mulia. Atau orang yang mempunyai status lebih tinggi sebagai tanda hormat.
10. Anuggaha Dana; Pemberian kepada orang yang lebih rendah.
11. Sankhara Dana; Pemberian Dana setelah mendapat dorongan atau anjuran dari orang lain. Apabila berbuah akan menjadikan seseorang itu berpikir lamban dan bodoh.
12. Asankhara Dana; Pemberian yang dilakukan atas kehendak sendiri, tanpa dorongan dari orang lain. Apabila berbuah akan menjadikan seseorang itu cerdas dan pandai.
13. Jana Dana; Pemberian yang dilakukan dengan sepenuh pengertian akan akibat-akibatnya.
14. Ajana Dana; Pemberian yang dilakukan dengan tidak mengerti/mengetahui apa akibatnya.
15. Vatthu Dana; Pemberian barang materi.
16. Asankhara Dana; Pemberian berupa suatu kebebasan pada suatu makhluk dari bahaya atau dari kematian, misalnya membebaskan hewan-hewan dari kurungan (yang telah ditangkap), larangan untuk berburu di hutan, melatih/mematuhi Pancasila Buddhis, dan sebagainya.
17. Ajjhatika Dana; Pemberian berupa anggota badan, misalnya mata, badan jasmani, dan mengorbankan jiwa sendiri untuk kebaikan dan kebahagiaan orang lain. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan donor darah.
18. Bahira Dana; Pemberian biasa, tidak berupa anggota tubuh sendiri.
19. Hina Dana; Pemberian yang dilakukan dengan harapan mendapat kemasyuran.
20. Majjhima Dana; Pemberian yang dilakukan dengan tujuan untuk dapat dilahirkan sebagai manusia yang kaya.
21. Panita Dana; Pemberian yang dilakukan dengan harapan untuk mencapai kebebasan [Nibbana].
22. Dasa Dana; Pemberian yang bernilai rendah, misalnya sesuatu yang biasa diberikan kepada seorang budak.
23. Sahaya Dana; Pemberian yang mempunyai tingkat yang sama dengan apa yang biasa digunakan seseorang yang sama kedudukannya, misalnya sesuatu yang diberikan kepada seorang teman.
24. Sami Dana; Pemberian yang bernilai tinggi, misalnya sesuatu yang bisa dipakai oleh para majikan atau raja-raja.
25. Loka Dana; Pemberian yang dilakukan karena tradisi setempat dalam arti takut dipandang rendah bila tidak ikut berdana.
26. Atta Dana; Pemberian yang dilakukan untuk menjaga kewibawaan/pangkat seseorang.
27. Dhamma Dana; Pemberian yang dilakukan karena ingin mempraktekkan ajaran agama.
28. Civara Dana; Pemberian jubah kepada bhikkhu.
29. Pindapatta Dana; Pemberian makanan kepada bhikkhu.
30. Bhesajja Dana; Pemberian makanan kepada bhikkhu.
31. Senasana Dana; Pemberian tempat tinggal atau kuti kepada bhikkhu. Sang Buddha bersabda, “Vihara Danam Sanghassa Aggam Buddhena Vannitam”, yang artinya, “Sebuah tempat tinggal bhikkhu yang diberikan kepada Sangha dipuji oleh Sang Buddha sebagai pemberian hadiah tertinggi.”Demikian juga, “Soca Sabbadado Hoti, Yo Dadati Upassayam”, yang artinya, “Seseorang yang mendirikan tempat tinggal bhikkhu sebagai hadiah kepadaSangha, sama nilainya dengan segala macam hadiah.”
32. Dakkhina Visuddhi Dana; Penggolongan ini didasarkan atas:
- Sifat si pemberi yang berbudi luhur atau menjalankan sila
- Sifat si pemberi yang tidak berbudi luhur atau tidak menjalan sila
- Sifat si penerima yang berbudi luhur atau menjalankan sila
- Sifat si penerima yang tidak berbudi luhur atau tidak menjalankan sila.
Jika pemberian dana tersebut dilakukan dimana kedua-duanya berbudi luhur, maka akan menghasilkan buah yang banyak. Jika salah satunya tidak berbudi luhur, maka buah yang diperolehnya hanya sedikit.
33. Sakkacca Dana; Pemberian dengan hati-hati, sopan, dan penuh hormat.
34. Asakkacca Dana; Pemberian tanpa sifat-sifat tersebut di atas. Misalnya memberikan makanan kepada hewan, tanpa memperhatikan segi-segi kebersihan dan sebagainya. Jika pemberian dana ini menghasilkan buah maka akan mendapatkan sikap yang kurang hormat atau kasar dari teman, anak atau pelayannya.
35. Sahatthika Dana; Pemberian dengan tangan sendiri atau secara pribadi.
36. Anatthika Dana; Pemberian dengan menggunakan perantara, misalnya dengan melalui seorang pelayan. Bila pemberian ini berbuah, kemungkinan akan menghasilkan buah yang disertai dengan tiadanya pengikut atau teman.
37. Agga Dana; Pemberian sesuatu yang baru dan terbaik.
38. Ucchita Dana; Pemberian berupa sesuatu yang bernilai rendah misalnya barang sisa. Jika si penerima Ucchita Danamenghargai dan menyukai pemberian ini, maka dana yang diberikan akan tetap membawa hasil yang besar, sejauh pemberian tersebut disertai kehendak [cetana] yang baik dan sikap pikiran yang hormat dan sungguh-sungguh [sakkaca], misalnya pemberian dari seorang yang kaya kepada seorang fakir miskin, ataupun pemberian kepada hewan-hewan peliharaan.
39. Dhammika Dana; Pemberian yang betul diberikan kepada seseorang atau lembaga yang dituju sejak dari semula.
40. Adhammika Dana; Pemberian yang sebenarnya akan diberikan kepada seseorang atau sesuatu lembaga, tetapi orang itu mengubah pikirannya dan memberikannya kepada orang lain atau lembaga lain.
41. Dhamma Dana; Pemberian berupa nasi, air, pakaian, dan sebagainya.
42. Adhamma Dana; Pemberian berupa minuman keras, senjata, mesiu, alat atau gambar (porno) yang dapat menimbulkan kekotoran batin, dan sebagainya, barang-barang yang berbahaya, yang mungkin menjadikan seseorang melanggar Panatiatau Surameraya Sila. Pemberian dana semacam ini akan menghasilkan perbuatan yang tidak baik [akusala kamma]. Tetapi bila seseorang memberikan racun yang diberikan untuk tujuan menyembuhkan penyakit ataupun senjata dan mesiu tidak berbahaya untuk keperluan vihara, maka hal ini adalah perbuatan baik [kusala kamma].
43. Saparivara Dana; Pemberian yang disertai dengan tambahan-tambahan lain yang lengkap
44. Aparivara Dana; Pemberian yang tidak disertai dengan tambahan-tambahan lain
45. Savajja Dana; Pemberian yang disertai kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup. Apabila pemberian dana ini menghasilkan buah, maka cenderung disertai dengan adanya bahaya-bahaya atau dapat pula hilangnya jiwa seseorang.
46. Anavajja Dana; Pemberian yang tidak disertai dengan kekejaman atau pembunuhan makhluk hidup.

Juli 24, 2014

Macam-macam Dana dan Manfaat (hasil) dari Berdana

Macam-macam Dana dan Manfaat (hasil) dari Berdana


Pemberian (dana) secara Pribadi
Buddha menjelaskan empat belas jenis pemberiaan (dana) secara pribadi :
Ananda, ada empat belas jenis pemberian (dana) secara pribadi:

  1. Seseorang memberikan dana kepada seorang SammaSamBuddha.
  2. Seseorang memberikan dana kepada seorangPaccekabuddha.
  3. Seseorang memberikan dana kepada seorang Arahat.
  4. Seseorang memberikan dana kepada seorang yang sedang berusaha menjadi Arahat.
  5. Seseorang memberikan dana kepada seorang Anagami.
  6. Seseorang memberikan dana kepada seorang yang sedang berusaha menjadi Anagami.
  7. Seseorang memberikan dana kepada seorang Sakadagami.
  8. Seseorang memberikan dana kepada seorang yang sedang berusaha menjadi Sakadagami.
  9. Seseorang memberikan dana kepada seorang enterer-stream (Sotapanna).
  10. Seseorang memberikan dana kepada seorang yang sedang berusaha menjadi Sotapanna.
  11. Seseorang memberikan dana kepada salah seorang yang di luar jaman pembabaran Buddha Dhamma yang bebas dari nafsu kesenangan sensual karena pencapaian Jhana.
  12. Seseorang memberikan dana kepada seorang biasa yang bermoral.
  13. Seseorang memberikan dana kepada seorang biasa yang tidak bermoral.
  14. Seseorang memberikan dana kepada hewan.

Buddha kemudian menjelaskan manfaat dari empat belas jenis pemberian ini:

  • Dengan memberikan dana kepada binatang, dengan pikiran murni, pemberian diharapkan dapat kembali sebanyak seratus kali lipat. Ini berarti diharapkan dapat berbuah dalam seratus kehidupan. Pemberian dengan pikiran murni berarti pemberian tanpa mengharapkan imbalan apa pun, seperti bantuan dari penerima.
    Seseorang melakukan berdana hanya untuk mengumpulkan kamma baik, dengan keyakinan yang cukup kuat terhadap Hukum kamma. Misalkan seseorang memberi makan anjing dengan pikiran: "Ini adalah anjing saya. Pikiran seperti ini bukanlah dalam keadaan pikiran murni.
    Tapi jika seseorang memberi makanan ke burung, seperti burung merpati, maka pemberiannya adalah murni, karena ia tidak mengharapkan apapun dari burung tersebut.
    Ini berlaku juga untuk instansi yang disebutkan kemudian. Sebagai contoh, jika seseorang berdana kepada Bikkhu, dengan berpikir bahwa ini akan membawa kesuksesan dalam bisnis saya, ini bukanlah pemberian dengan pikiran murni. Pemberian semacam ini tidak memberikan manfaat yang superior
Buddha menjelaskan lebih lanjut:
  • Dengan membuat persembahan dengan pikiran murni untuk orang biasa tidak bermoral, pemberian di harapkan dapat kembali sebanyak seribu kali lipat.
  • Dengan membuat persembahan dengan pikiran murni untuk orang biasa bermoral, pemberian di harapkan dapat kembali sebanyak seratus ribu kali lipat.
  • Dengan membuat persembahan dengan pikiran murni untuk seseorang di luar pembabaran Buddha Dhammam, seseorang tersebut yang bebas dari nafsu terhadap kesenangan sensual, karena pencapaian Jhana, pemberian di harapkan dapat kembali sebanyak seratus - ribu kali ratusan ribu kali lipat.
  • Dengan membuat persembahan dengan pikiran murni untuk orang yang sedang memasuki jalan pencapaian Sotapanna (berusaha mencapai Sotapanna), di harapkan dapat kembali sebanyak tidak terhitung banyaknya.
  • Bagaimana cara mengatakannya apa bila seseorang memberikan pemberian kepada seseorang yang telah menjadi Sotapanna, atau kepada seseorang yang sedang memasuki jalan pencapaian Sakadagami, atau kepada seorang Sakadagami, atau kepada seseorang yang sedang memasuki jalan pencapaian Anagami, atau kepada Anagami, atau kepada kepada seseorang yang sedang memasuki jalan pencapaian Arahat, atau seorang Arahat atau kepada seorang Pacceka buddha, atau seorang Buddha, Yang tercerahkan Sepenuhnya? Di sini, berarti seseorang memberikan dana makanan yang cukup untuk sekali makan saja. Jika pemberi menawarkan berkali-kali, seperti, selama berhari-hari atau berbulan-bulan, tidak ada kata-kata untuk menjelaskan manfaat dari pemberian. Ini adalah berbagai jenis pemberian pribadi.

Tujuh Jenis Pemberian (dana) untuk Sangha
Buddha kemudian menjelaskan kepada Ananda:
Ananda, ada tujuh jenis pemberian kepada Sangha (SanghikaDāna).

  1. Seseorang memberikan dana kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhunis dipimpin oleh Buddha, ini adalah jenis pertama dari pemberian kepada Sangha.
  2. Seseorang memberikan dana kepada Sangha Bhikkhu dan Bhikkhunis setelah Buddha mencapai Parinibnibbāna, ini adalah jenis kedua pemberian kepada Sangha.
  3. Seseorang memberikan dana kepada Sangha bhikkhu, ini adalah jenis ketiga pemberian kepada Sangha.
  4. Seseorang memberikan dana kepada Sangha dari bhikkhunis: ini adalah jenis keempat pemberian kepada Sangha.
  5. Seseorang memberikan dana. mengatakan: "Mengundang begitu banyak bhikkhu dan bhikkhunis dari Sangha”, ini adalah jenis kelima pemberian kepada Sangha.
  6. Seseorang memberikan dana. mengatakan: "Mengundang begitu banyak bhikkhu dari Sangha” , ini adalah jenis keenam pemberian kepada Sangha.
Di masa depan, Ananda,
akan ada para Bikkhu yang hanya melilitkan jubah warna kuning nya di leher, tidak bermoral,ber karakter jahat. Orang-orang akan memberikan persembahan kepada orang-orang yang tidak bermoral atas nama Sangha.bahkan jika memang begitu, Saya katakan, pemberian kepada Sangha adalah tak terhitung. Dan Saya katakan tidak ada sebuah persembahan kepada seseorang secara individual, yang memiliki buah lebih besar dari pada pemberian kepada Sangha.

Ini berarti bahwa persembahan kepada Sangha (sanghika Dana) lebih menguntungkan daripada persembahan pribadi. Mahapajapati Gotami menawarkan jubah kepada Sangha dipimpin oleh Buddha akan jauh lebih bermanfaat. Hasilnya akan tak terhitung dan beragam. Jadi Buddha mendorongnya untuk memberikannya kepada Sangha juga.

Enam Kualitas pemberian yang tak terhitung:

Suatu ketika Buddha tinggal di dekat Savatthi, di Jetavana dalam vihara Anathapindika. Kemudian ibu Nanda, seorang awam murid Buddha, yang tinggal di Velukandaka, memberikan dana makanan.

Pemberian wanita itu diberkahi dengan enam kualitas, dan penerimanya adalah Sangha Bhikkhu, dipimpin oleh Bikkhu YM. Sariputta dan YM.Mahāmoggallāna. Buddha melihat dengan mata bathinNya, dan ditujukan bagi para Bikkhu.

Bhikkhu, murid awam Velukandaka telah menyiapkan pemberian yang dikaruniai enam kualitas kepada Sangha, yang dipimpin oleh YM. Sariputta dan YM. Mahāmoggallāna.

Bagaimana, Bhikkhu, suatu pemberian dikaruniai dengan enam kualitas?
Bhikkhu, pemberi harus dianugerahi dengan tiga kualitas, dan penerima juga harus kaya dengan tiga kualitas. Apa tiga kualitas pemberi itu? Bhikkhu,
  1. Sebelum memberikan pemberi adalah ber gembira dalam hatinya,
  2. Sambil memberikan hati pemberi merasa puas,
  3. Setelah memberikannya pemberi merasa bahagia.
Ini adalah tiga kualitas si pemberi.

Apakah tiga kualitas penerima? Bhikkhu,

  1. Penerima ini telah terbebas dari keserakahan, atau sedang mencoba menghancurkan kesarakahan,
  2. Penerima ini telah terbebas dari kemarahan, atau sedang mencoba menghancurkan kemarahan,
  3. Penerima ini telah terbebas dari kebodohan / delusi, atau sedang mencoba untuk menghancurkan delusi.

Ini adalah tiga kualitas penerima.

Secara keseluruhan ada enam kualitas. Jika pemberian ini dikaruniai dengan enam kualitas, menghasilkan hasil yang beragam dan mulia.

Buddha menjelaskan lebih lanjut : Bikkhu, tidak mudah untuk menghitung besarnya kebaikan tersebut dengan mengatakan “ ini akan menghasilkan jasa yang besar, bagus, ber akumulasi untuk kamma baik selanjutnya, mematangkan kebahagiaan, menuntun ke surga, menyebabkan kebahagiaan, di dambakan, dan dicintai.” Sesungguhnya kumpulan jasa kebajikan dan kamma baik ini adalah tidak dapat dihitung dan tak terbatas.

Bikkhu seperti tidak mudah untuk mengukur air di laut yang besar dan berkata ada seember penuh, ada seratus ember penuh, ada ribuan, ratusan ribu ember penuh. Karena jumlah air yang tidak dapat dihitung dan tak terbatas itu.

Bahkan Bikkhu, tidak mudah untuk mengukur manfaat dari pemberian yang di karuniai oleh enam kualitas ini. sesungguhnya manfaat jasa tersebut adalah tidak dapat dihitung dan tak terbatas

Semoga jasa-jasa kebajikan yang kita timbun membimbing kita ke pencapaian Nibbana
Semoga jasa-jasa kebajikan yang kita timbun membimbing kita ke penghancuran nafsu keinginan yang merupakan sumber penderitaan
Semoga semua berbahagia dan sehat selalu