Agustus 08, 2014

Membuka Pintu Hati



Membuka Pintu Hati 

Beberapa abad yang silam, tujuh orang biksu tinggal di sebuah gua dalam hutan rimba di suatu tempat di Asia, mereka melakukan meditasi cinta kasih tanpa syarat yang saya ceritakan dalam cerita sebelumnya. Ada seorang biksu kepala, adiknya dan sahabat karibnya. Yang keempat adalah musuh biksu kepala: mereka tidak pernah akur. Biksu kepala kelima adalah biksu yang sangat tua, begitu rentanya sampai-sampai sewaktu-waktu ia bisa saja meninggal dunia. Yang keenam, biksu yang sakit berat--bisa saja meninggal kapan saja. Yang terakhir, ketujuh, adalah biksu yang tak berguna. Dia mendengkur setiap saat dia seharusnya bermeditasi, tak bisa mengingat paritta (ayat suci), dan kalau pun kebetulan ingat, ia mendarasnya dengan nada sumbang. Ia juga tidak bisa menggunakan jubah dengan pantas. Namun biksu yang lain membiarkannya begitu saja dan berterima kasih kepadanya karena telah mengajarkan mereka untuk bersabar.

Suatu hari, segerombolan bandit menemukan gua tersebut. Gua itu sangat terpencil, sangat tersembunyi, sehingga mereka ingin mengambil alih gua itu untuk dijadikan markas. Jidi mereka berniat untuk membunuh semua biksu tersebut. Akan tetapi, untunglah, biksu kepala sangat lihai berbicara membujuk orang. Dia berhasil--jangan tanya saya caranya--membujuk gerombolan bandit untuk membiarkan biksu-biksu itu pergi, kecuali satu orang sandera, yang akan dibunuh sebagai peringatan kepada biksu-biksu yang lain untuk tidak mengatakan lokasi gua itu kepada siapa pun. Itulah hasil terbaik yang bisa dinegosiasikan oleh biksu kepala.

Tatkala saya menceritakan kisah ini di depan publik, saya berhenti sebentar untuk bertanya pada hadirin, "Baiklah, menurut Anda, siapakah yang akan dipilih oleh biksu kepala?" Pertanyaan ini biasanya bisa menyegarkan hadirin yang terkantuk-kantuk dalam ceramah saya dan membangunkan mereka yang sudah tertidur. Saya mengingatkan mereka bahwa da biksu kepala, adiknya, sahabatnya, musuhnya, biksu tua dan bisu yang sakit (dua-duanya sudah mau mati), serta biksu yang tidak berguna. Menurut Anda, siapa yang akan dipilihnya?

Sebagian menyarankan si musuh saja, "Bukan," kata saya. "Saudaranya?" "Salah."

Biksu yang tak berguna selalu saja disebutkan--tega nian kita! Setewlah cukup menikmati jawaban-jawaban itu, saya beberkan jawabannya: biksu kepala tak mampu memilih.

Cinta kasihnya kepada adiknya sama persis besarnya, tidak lebih atau tidak kurang, dengan cinta kasihnya kepada sahabatnya, juga persis dengan cinta kasihnya kepada musuhnya, kepada biksu tua, biksu yang sakit, bahkan kepada biksu yang tak berguna itu. Dia telah menyempurnakan arti kata-kata itu: pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan, siapa pun kamu.

Pintu hati biksu kepala terbuka lebar untuk semua, tanpa syarat, tanpa pandang bulu, cinta kasih yang mengalir bebas. Dan yang paling penting, cinta kasihnya kepada orang lain sama besarnya dengan cinta kasihnya pada dirinya sendiri. Pintu hatinya juga terbuka untuk dirinya sendiri. Itulah mengapa dia tak mampu memilih antara dirinya sediri dan yang lain-lain.

Saya mengingatkan orang Yahudi-Kristiani di antara hadirin saya bahwa kitab mereka mengajarkan untuk "cintailah tetanggamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri." Tidak lebih dari dirimu sendiri dan tidak kuarang dari dirimu sendiri, namun setara dengan dirimu sendiri. Itu berarti memperlakukan orang lain seperti halnya kita memperlakukan diri sendiri dan memperlakukan diri sendiri seperti halnya kita memperlakukan orang lain.

Mengapa kebanyakan hadirin berpikir bahwa biksu kepala akan mengorbankan dirinya sendiri untuk dibunuh? Mengapa, dalam budaya kita, kita selalu mengorbankan diri sendiri untuk orang lain dan menganggap hal itu sebagai kebaikan? Mengapa kita lebih menuntut, lebih kritis, dan menghukum diri sendiri lebih dari siapa pun? Alasannya cuma satu: kita belum belajar bagaimana mencintai diri sendiri. Jika Anda merasa sulit untuk berkata kepada orang lain "pintu hatiku terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan," akan jauh lebih sulit untuk mengatakannya kepada diri sendiri, "Aku. Orang yang begitu dekat, kalau nggak salah ingat. Diriku. Pintu hatiku juga akan selalu terbuka untuk diriku sendiri. Aku ini, tak peduli apa pun yang telah kulakukan. Ayo masuk!"

Itulah yang saya maksud dengan mencintai diri kita sendiri: ini dinamakan pemaafan. Melangkah keluar dari penjara rasa bersalah; berdamai dengan diri sendiri. Dan jika Anda punya nyali untuk mengatakan kata-kata itu kepada diri Anda sendiri, dengan sejujurnya, dari relung hati yang terdalam, maka Anda akan menyongsong ke depan, bukannya mundur, untuk menemukan cinta kasih yang luhur. Suatu hari, kita semua harus mengatakan kata-kata itu, atau yang semacamnya, kepada diri kita sendiri, dengan sejujurnya, bukan hanya main-main. Saat kita melakukannya, itu seakan-akan seperti memanggil pulang bagian diri kita yang telah lama terusir, hidup membeku di luar sana. Kita merasa tersatukan, utuh, dan lepas untuk bahagia. Hanya ketika kita bisa mencintai diri sendiri dengan cara begitu, barulah kita benar-benar mengerti bagaimana mencintai orang lain, tidak lebih dan tidak kurang.

Dan harap diingat, Anda tidak perlu menjadi sempurna terlebih dahulu, tanpa kesalahan, untuk memberikan cinta Anda kepada diri sendiri. Jika Anda harus menunggu kesempurnaan, itu tidak akan tiba. Kita harus membuka pintu hati kita kepada diri kita sendiri, apa pun yang telah kita lakukan. Begitu kita berada di dalamnya, sempurnalah kita.

Orang sering bertanya kepada saya, apa yang terjadi dengan ketujuh biksu tersebut sewaktu biksu kepala mengatakan kepada para bandit bahwa dia tidak mampu memilih.

Kisah ini, seperti yang saya dengar beberapa tahun silam, tidak mengisahkan kelanjutannya: ceritanya berhenti sampai di situ! Namun saya tahu apa yang terjadi kemudian; saya mereka-reka apa yang semestinya terjadi. Ketika biksu kepala menjelaskan kepada para bandit kenapa dia tidak mampu memilih antara dirinya sendiri dan yang lain, dan menjelaskan arti cinta kasih dan arti pemaafan seperti saya jelaskan kepada Anda tadi, maka semua bandit menjadi sangat terkesan dan terinspirasi, sehingga tidak hanya mereka melepaskan semua biksu itu, namun mereka juga bertaobat dan menjadi biksu.

Agustus 06, 2014

Mensyukuri Kekurangan

Mensyukuri Kekurangan
Seusai sebuah upacara pernikahan di Singapura, beberapa tahun yang lalu, sang ayah mertua memanggil menantu barunya kepojok untuk memberinya nasihat tentang bagaimana agar pernikahannya awet dan bahagia.

''Kamu mungkin sangat mencintai anak saya'' katanya kepada si pemuda.
''Ya, iyaaa doong......'' desah si pemuda.

''Dan kamu mingkin berpikir dialah perempuan paling hebat di dunia,'' sambung si mertua.

''Dan begitu sempurna dalam segala hal,'' si menantu mengiyakan dengan nada kurang sabar.

''Itulah yang kamu rasakan sewaktu baru menikah,'' kata si mertua.
''Namun setelah beberapa tahun, kamu akan mulai melihat kekurangan-kekurangan anak saya.
Saat kamu mulai menyadarinya, saya ingin kamu ingat ini ; Jika dia tidak mempunyai kekurangan itu, Menantuku, dia mungkin sudah menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik dari kamu''.

Jadi kita harus selalu bersyukur atas kekurangan -kekurangan pasangan kita, karena jika sedari awal mereka tidak memiliki kekurangan-kekurangan itu, mereka sudah akan menikah dengan orang lain yang jauh lebih baik daripada kita.

Agustus 05, 2014

Cinta Sejati


CINTA SEJATI
Masalah dalam percintaan dimulai saat buyarnya fantasi, kekecewaan bisa sangat menyakiti kita. Pada cinta asmara, kita tidak benar-benar mencintai pasangan kita, kita hanya mencintai cara mereka yang membuat kita tersentuh. Yang kita cintai adalah “sengatan” yang kita rasakan dalam kehadiran mereka. Itulah sebabnya, ketika mereka tidak ada, kita merindukannya. Seperti sengatan lainnya, tak berapa lama ini pun akan berlalu.
Cinta sejati adalah cinta yang tak mementingkan diri sendiri. Kita hanya peduli kepada orang lain. Kita berkata kepada mereka, “Pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu, apa pun yang kamu lakukan,” dan kita bersungguh-sungguh dengan perkataan itu. Kita hanya ingin mereka bahagia. Cinta sejati itu langka.
Banyak dari kita suka berpikir bahwa hubungan istimewa kita adalah cinta sejati, bukan cinta asmara. Berikut ini adalah sebuah tes untuk menilai cinta anda termasuk jenis yang mana.
Pikirkanlah pasangan anda. Bayangkanlah wajahnya di benak anda. Kenanglah hari anda bertemu dengannya dan saat-saat indah bersamanya. Sekarang bayangkan anda menerima sepucuk surat dari pasangan anda, di mana dalam surat itu, pasangan anda memberi tahu bahwa ia telah jatuh hati kepada sahabat anda, dan mereka telah pergi untuk hidup bersama. Bagaimana perasaan anda?
Jika cinta anda adalah cinta sejati, anda akan begitu tergetar bahwa pasangan anda telah menemukan orang yang lebih baik dari diri anda dan dia bahkan sekarang lebih bahagia. Anda akan merasa bahagia karena pasangan anda dan sahabat anda dapat berbagi hidup bersama-sama. Anda akan sangat gembira bahwa mereka ternyata saling mencintai. Bukankah kebahagiaan pasangan anda adalah hal yang terpenting dalam cinta sejati anda?
Cinta sejati itu sangat langka.
Seorang ratu tengah melihat keluar dari jendela istananya ke arah Buddha yang sedang berjalan untuk menerima dana makanan di kota. Raja melihatnya dan menjadi cemburu terhadap kesetiaan sang ratu terhadap sang Pertapa Agung tersebut. Dia memarahi sang ratu dan menuntutnya untuk mengatakan siapa sebenarnya yang lebih dicintai oleh sang ratu.
Sang ratu adalah pengikut Buddha yang setia, namun pada saat itu anda harus sangat berhati-hati jika suami anda adalah seorang raja. Hilang kepala berarti hilang kepala betulan. Sang ratu ingin menjaga kepalanya agar tetap utuh, maka ia menjawab dengan kejujuran yang tak terbantahkan, “Saya mencintai diri saya sendiri lebih dari kalian semua.”

Agustus 04, 2014

Cinta Tanpa Syarat


CINTA TANPA SYARAT
Sewaktu saya masih berumur sekitar 13 tahun, ayah memanggil saya dan mengatakan sesuatu yang mengubah hidup saya. kami berdua sedang berada didalam mobilanya yang tua dan usang, di pinggir jalan pemukiman mskin london. dia memutar badannya ke asrah saya dan berkata ” nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu rumahku akan selalu terbuka untukmu “

saya hanyalah seorang remaja belia pada waktu saya tidak benar-benar mengerti apa yang dimaksudkan ayah, tetapi saya tahu itu adalah sesuatu yang penting, maka saya selalu mengingatnya. ayah meninggal dunia tiga tahun kemudian.

ketika saya menjadi biksu di thailand, timur laut, saya kembali memikirkan kata-kata ayah . rumah kami saat itu hanyalah sebuah flat kecil didaerah miskin london, bukanlah rumah yang menarik untuk dibukakan pintunya. tetapi saya selalu menyadari bahwa bukan itu maksud ayah sebenarnya. apa yang terkandul dalam kata-kata ayah, seperti sebuah permata yang terbungkus kain, merupakan sebuah ungkapan cinta paling jernih yang pernah saya dengar, “nak, apapun yang kamu lakukan dalam hidupmu, ketahuilah, pintu hatiku akan selalu terbuka untukmu.”

ayah saya menawarkan cinta tanpa syaratnya. tidak ada maksud tersembunyi. saya adalah anaknya, cukup itu saja. begitu indah. begitu nyata. dia sungguh-sunggguh.

dibutuhkan keberanian dan kebijaksanaan untuk mengatakan hal ini kepada orang lain, untuk membuka pintu hati anda kepada seseorang tanpa embel-embel “jika” . mungkin kita berpikir mereka akan mengambil keuntungan dari kita, tetapi tidak begitu, tidak demikian menurut pengalaman saya. sewaktu anda menerima cinta semacam itu dari orang lain, hal itu bagaikan menerima hadiah paling berharga. anda menghargainya, menyimpannya baik-baik didalam hati, jangan sampai hilang. walaupun saat itu saya hanya mengerti sebagian dari kata-kata ayah, saya tidak berani menyakiti pria seperti itu. jika anda memberikan kata-kata itu kepada orang yang dekat dengan anda, jika anda bersungguh-sungguh, jika itu datang dari hati anda, orang itu akan menyambut kedepan, bukan mundur, untuk menggapai cinta anda.

Pondok Meditasi Jakasampurna

Sekian Lama Tidak Posting

Sebuah pondok meditasi di Kota Bekasi tepatnya di Jl.Asafiah no. 100 Gg. Bugis Kampung Dua-Jakasampurna Bekasi Barat, di buat dengan arsitek dari Bhante Khamsai Sumano... Begitu hebat karyanya yang menggabungkan alam dan suasana sunda namun juga kental unsur Thailand nya... :)

Bila kalian datang ke tempat ini, kalian akan mendapat ketenangan untuk bermeditasi. Tetapi sebelum kalian bermeditasi, diharapkan mencoba sauna di tempat ini terlebih dahulu, karena Kalian akan mendapatkan ketenangan ganda setelah sauna. Sauna ini adalah metode yang dibawa Bhante dari Thailand,sangat menyehatkan untuk tubuh dan membantu proses meditasi yang di tujukan untuk kesehatan batin kita...
Untuk bermeditasi waktu yang paling tepat di sana adalah ketika bangun pagi, mandi lalu bermeditasi. Saya telah merasakan sendiri saat saya menginap dengan sahabat2 saya dari vihara Ananda. Sekitar jam 5 kami bermeditasi dengan seorang Bhante muda yang bernama Bhante Phoem, sayangnya ketika itu di dhammasala tidak dipasang payung meditasi, sehingga nyamuk sangat mengganggu..he3.. Namun ketenangannya belum pernah saya rasakan, seperti tidak ada dukkha saat bermeditasi... :)

Sudah beberapa kali saya ke kebun(sebutan lain untuk Pondok Meditasi) dan bertemu dengan Bhante, salah satu Bhante yang sangat sering berbicara dengan saya yaitu Bhante Phoem, Bhante yang sangat ramah dan humoris. Di kebun Bhante tidak tetap tinggal di sini, terkadang ada beberapa Bhante, kadang tidak ada atau sendiri. Saat perayaan waisak bulan Mei lalu, sekitar 20 Bhante menghadiri perayaan di sini, dan yang menginap ada sekitar 10 Bhante Thailand. Ada yang unik dari pondok meditasi ini, Bhante Thailand masih banyak yang belum lancar berbahasa Indonesia. Yang saya ketahui dapat berbahasa Indonesia dan pernah melihat Bhante tersebut di kebun yaitu Bhante Wongsin, Bhante Subhin, Bhante Kamsai tentunya. Bila umat bertemu selain Bhante itu, maka berbicaralah agak lambat dan jelas(tentunya menggunakan bahasa baku..he3..). Namun ada juga Bhante dari Indonesia yang pernah tinggal di sana, yaitu Bhante Shanti Karo. Bhante dan umat termasuk para pengurus di sana sangat ramah, dan umat seharusnya menganggap sebagai tempat sendiri dengan menjaga etika dan kesopanan di sana.

Akan ada banyak sekali pengalaman dan cerita bila umat datang ke sana, karena dapat mengenal Dhamma, dekat dengan alam, dan mempraktekkan Dhamma. Pondok meditasi tersebut lebih mendorong kita untuk melaksanakan Dhamma karena banyak kebajikan yang dapat kita lakukan di sana tanpa memikirkan status kita.

Bagi saudara se-Dhamma, mencobalah datang dan buktikan kebahagiaan yang di dapat...
Terima kasih saya ucapkan untuk perhatiannya membaca blogg saya ini...

Sabbhe Sattha Bhavantu Sukkhitattha...

Menurut Pengalam Saya:

1.Tempatnya Tenang


2.Udaranya Sejuk

3.Sering Dapat Kenang Kenangan xixixixixi

4.Makan Gratis hehehehe (Hiraukan)

5.Jauh dari kebisingan jalan raya (Entah kenapa gk ada suara kendaraan)